Pajak Kendaraan Jateng Nunggak Rp2,4 Triliun, Ini Datanya
Kepatuhan PKB di Jateng baru 54%. Dari 17 juta kendaraan, tunggakan pajak mencapai Rp2,4 triliun dan opsen Rp900 miliar.
Lapak wedang tahu di Jalan Kranggan, Jogja/Harian Jogja-Lajeng Padmaratri
Harianjogja.com, JOGJA—Bagi sebagian orang, minuman bernama wedang tahu barangkali masih asing di telinga. Kuliner yang pas untuk menghangatkan tubuh ini rupanya berasal dari imigran Tionghoa yang masuk ke Indonesia pada akhir abad ke-19. Kuliner ini awalnya marak di Kota Semarang.
Di beberapa kota, minuman ini memiliki nama lain. Di Solo bernama tahoek, di Surabaya disebut tahuwa sedangkan di Sumatra bernama kembang tahu.
Di Kota Jogja minuman ini disebut wedang tahu. Salah satu penjualnya, Bu Sukardi, bisa ditemudi di Jalan Kranggan, Cokrodiningratan, Jetis, Jogja. Ia telah berjualan sejak 10 tahun yang lalu tepatnya di persimpangan depan Gudeg Bu Djuminten.
Setiap hari, Bu Kardi membuka lapak mulai pukul 06.30 WIB. Tak berapa lama beberapa orang akan datang membeli seporsi wedang tahu yang dijual seharga Rp6.000. Umumnya mereka membeli untuk dibawa sebagai bekal ke kantor.
“Dulu awalnya yang beli itu kebanyakan orang Tionghoa. Tapi sekarang karena sudah banyak yang tahu lewat media sosial, banyak mahasiswa yang datang mencoba,” jelas Bu Sukardi kepada Harian Jogja belum lama ini.
Wedang tahu merupakan minuman tradisional dari sari kedelai yang disiram kuah jahe. Cara membuat wedang tahu agaknya gampang-gampang susah. Kedelai yang sudah dicuci bersih lalu direndam selama kurang lebih delapan jam.
Setelah dibilas, ia kemudian diblender sampai halus. Kedelai yang sudah halus ini kemudian diperas untuk diperoleh sarinya dan dimasak. Dalam proses pembuatannya, wedang tahu tidak menggunakan pengawet sehingga minuman ini lebih nikmat diminum langsung.
Dalam penyajiannya, semangkok wedang tahu akan bersanding dengan kuah jahe yang memiliki cita rasa rempah-rempah yang kuat. Rasa hangat dari kuah jahe berpadu dengan kelembutan wedang tahu.
Tak hanya bisa ditemui di sekitar Pasar Kranggan setiap pagi, wedang tahu Bu Sukardi sudah memiliki lima cabang lain. Beberapa di antaranya membuka lapak pada sore hari mulai pukul 16.00 WIB.
“Selain di sini ada juga di Pasar Pathuk jam pagi dan sore, di Jalan Kaliurang tepatnya belakang Pasar Colombo, di barat Mirota Godean tiap sore, timur XT Square juga tiap sore,” jelas Bu Sukardi.
Setiap harinya ia bisa menghabiskan sebanyak 10 kilogram untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di kelima lokasi tersebut. Ibu dua anak ini menyebutkan bisa menjual 150 porsi wedang tahu setiap hari kerja. Jumlah ini bahkan bisa lebih ketika akhir pekan.
Jika ingin membeli di Jalan Kranggan jangan sampai kesiangan. Sebab, pada pukul 09.00 WIB biasanya dagangan Bu Sukardi sudah habis dibeli pembeli. (ST15)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kepatuhan PKB di Jateng baru 54%. Dari 17 juta kendaraan, tunggakan pajak mencapai Rp2,4 triliun dan opsen Rp900 miliar.
SAR menemukan satu korban banjir bandang Solok dalam kondisi meninggal. Dua orang dilaporkan hilang dan pencarian terus dilanjutkan.
Dony Oskaria menegaskan manajer KDKMP bukan pegawai BUMN meski ditugaskan 2 tahun di bawah Agrinas Pangan dengan biaya pemerintah.
Bappenas mendorong penanganan karhutla bergeser dari respons ke pencegahan. BNPB telah mengerahkan 43.700 personel dan 55 armada udara.
Real Madrid membalas kritik Javier Tebas dan menyinggung prinsip netralitas. Simak awal perselisihan Tebas dan Los Blancos serta sejarah Madrid.
KAI Daop 6 Jogja membangun jalan baru 394 meter di Stasiun Lempuyangan. Sebanyak 13 rumah perusahaan ditertibkan untuk penataan kawasan.