Kawasan Edutainment dan Wisata Kuliner Berdiri di Sleman, Apa Keunikannya?

Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X meresmikan Edutainment dan Wisata Kuliner Dapur Warna, Kamis (21/3/2019). - Ist/Dapur Warna.
22 Maret 2019 05:17 WIB Sunartono Wisata Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi salah satu tujuan wisata skala nasional dan internasional, hal itu menjadi banyak potensi yang bisa dikembangkan, seperti sentra kuliner. Sebuah kawasan edutainment dan wisata kuliner terpadu di Sleman didirikan di atas lahan seluas satu hektare tepatnya di Dusun Pedak, Sinduharjo, Ngaglik atau di Jalan Kaliurang Km. 11. Kawasan ini diresmikan oleh Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X, Kamis (21/3/2019).

Edutainment dan wisata kuliner terpadu dengan nama Dapur Warna ini berbeda dengan tempat kuliner pada umumnya. Jika sebagian besar hanya menyajikan makanan, maka kawasan ini menambahinya dengan konsep edukasi yang terdiri atas kuliner, wisata sekaligus seni dan budaya. Sehingga di kompleks tersebut menyajikan beragam tempat atraksi seni, salah satunya pengunjung bisa belajar membatik serta beragam kesenian.

Komisaris Edutainment dan Wisata Kuliner Dapur Warna Nuryadi mengatakan pembangunan pusat kuliner itu berawal dari kepeduliannya terhadap dukungan pengembangan wisata di DIY. Keberadaan pusat kuliner itu diharapkan memberikan kemudahan kepada wisatawan yang singgah terutama dari kawasan wisata di Sleman seperti Kaliurang dan Volcano Tour Merapi. Soal harga, ia memastikan sangat bersahabat.  

“Kami sudah komitmen untuk bersama-sama dengan masyarakat sehingga kalau mematok harga tinggi ya itu jauh dari harapan masyarakat, jadi sangat terjangkau lah,” katanya dalam keterangan persnya, Kamis (21/3/2019).

Ia mengatakan, di pusat kuliner tersebut bisa menampung ribuan pengunjung, memiliki sebuah aula yang memiliki kapasitas 600 orang. Selain itu terdapat lima joglo terbuka serta beberapa joglo tertutup dan gazebo di pinggiran sungai dilengkapi dengan play ground.

Sajian makanan seluruh nusantara tersedia di pusat kuliner ini, bahkan menyajikan makanan luar negeri seperti dari Korea dan berbagai negara untuk menambah keragaman jenis makanan. “Ada 20 tenant, jenis masakan semua ada seluruh nusantara, tetapi memang lebih banyak memang Jawa. Misal ada wisatawan yang jauh mampir, bisa mandi di sini juga dan diperbolehkan,” ujarnya.

Pihaknya menyedikan tempat khusus untuk seni dan budaya, seperti membatik yang bisa dilakukan oleh pengunjung. Sehingga selain menikmati kuliner, mereka bisa sambil belajar membatik. “Ada jadwal-jadwalnya juga ketika ada pengunjung yang secara khusus ingin belajar membatik, jadi bisa makan sembari latihan membatik,” ucapnya.

Ke depan, lanjutnya, kawasan wisata kuliner itu akan dikembangkan menjadi pusat wisata kuliner terpadu dengan menambah sejumlah fasilitas salah satunya homestay yang bisa dipakai oleh pengunjung. Mengingat masih ada lahan di sekitar lokasi itu yang bisa dimanfaatkan untuk perluasan.

Adapun lahan kawasan kawasan edutainment dan wisata kuliner ini berdiri di atas tanah kas desa dengan sistem kerja sama. Nuryadi memastikan desa akan mendapatkan keuntungan dengan dibangunnya kawasan wisata kuliner tersebut karena sebelumnya lahan itu tidak produktif. Di sisi lain, dalam proses pengelolaan sebagian besar merekrut warga sekitar, meski untuk keahlian tertentu pihaknya melakukan seleksi.

Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X mengapresiasi berdirinya kawasan edutainment dan wisata kuliner di Sleman ini. Ia meyakini keberadaan kawasan ini bisa menggerakkan perekonomian warga sekitar sekaligus menaikkan pamor wisata di Sleman. “Kami berharap keberadaan ini bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar,” katanya.