Terletak di Bibir Pantura, Museum Ini Sajikan Koleksi Islam Masa Lampau

Pengunjung berfoto di Indonesia Islamic Art Museum. - Ist/IIAM.
17 September 2019 08:17 WIB Sunartono Wisata Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Indonesian Islamic Art Museum (IIAM) atau Museum Islam Indonesia menjadi salah satu referensi destinasi wisata bagi masyarakat yang ingin mendapatkan hiburan sekaligus pengetahuan tentang sejarah Islam. Tempat wisata ini menyajikan berbagai koleksi tentang Islam masa lampau dengan disuguhkan melalui teknologi canggih.

Museum ini terletak di Desa Paciran, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Berada di satu kawasan dengan Wisata Bahari Lamongan (WBL) serta Goa Maharani. Tepat di pinggir jalan Pantura yang hanya beberapa meter saja jaraknya dari Laut Jawa. Jika dari Kota Lamongan, untuk menuju museum ini bisa ditempuh sekitar 45 menit dengan jarak sekitar 45 kilometer. Justru lebih dekat dari Kota Tuban dengan jarak 35 kilometer atau sekitar 35 menit.

Selain itu, jika perjalanan dari Kota Tuban menuju museum ini cukup lurus dari barat menuju timur dengan melewati sepanjang pantura. Keindahan pemandangan pantai utara menjadi hiburan tersendiri di sepanjang perjalanan menuju museum ini. Perjalanan dimungkinkan lebih cepat dari 35 menit karena di jalur tersebut tak ditemui lampu bangjo dan tanpa kemacetan yang berarti.

Museum Islam Indonesia ini sendiri cukup dekat dengan Makam Sunan Drajat serta pondok pesantren terbesar di kawasan itu, seperti Ponpes Sunan Drajat dan Ponpes Muhammadiyah Karangasem, Paciran. Keberadaan museum yang menghadirkan Islam masa lampau memberikan manfaat bagi masyarakat untuk mempelajari peninggalan Islam secara visual.

Museum yang berdiri sejak Desember 2016 ini menjadi satu-satunya museum di Indonesia yang dilengkapi dengan teknologi augmented reality yang menggabungkan benda dua atau tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata. “Ini membuat pengunjung merasa asyik ketika masuk, pengunjung seakan berada di situasi yang nyata,” terangnya Yulianto, Manager Riset dan Pengembangan Museum Islam Indonesia dalam rilisnya, Selasa (17/9/2019).

Ia menambahkan secara umum museum ini dibagi dalam beberapa zona. Mulai dari audio visual yang berisi pemutaram film pendek tentang sejarah Islam, dilanjutkan dengan zona galeri berisi replika peninggalan kerajaan Islam baik yang berada di nusantara maupun di dunia. Kemudian zona diorama yang berisi koleksi miniatur tiga dimensi persebaran Islam di masa lampau. Sehingga pengunjung dapat menemukan koleksi sejarah Islam yang lebih detail melalui tiga dimensi.

“Di diorama ini ada replika peradaban Islam seperti Masjid Cheng Ho, Kapal Cheng Ho, pasar tradisional, pergudangan Belanda serta ada area spot foto yang menarik, pengunjung bisa berfoto tiga dimensi,” ujarnya.

Ia mengatakan Indonesia Islamic Art Museum ini sangat cocok untuk edukasi bagi pelajar karena di dalamnya sarat nilai sejarah. Uniknya, siswa yang berkunjung bisa mendapatkan lembar kerja bisa didownload secara online yang disesuaikan dengan kurikulum pendidikan. “Banyak permainan edukatif yang disediakan di museum yang tujuannya untuk mendukung pembentukan karakter siswa,” katanya.