Advertisement

Lopis Legendaris Jogja: Dibuat Lima Jam, Ludes dalam Sesaat

Tri Indah Lestari
Rabu, 27 Juli 2022 - 18:37 WIB
Budi Cahyana
Lopis Legendaris Jogja: Dibuat Lima Jam, Ludes dalam Sesaat Mbah Satinem saat meracik lopis pesanan pelanggannya, Selasa (26/7/2022). - Harian Jogja/Tri Indah Lestari/M134

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Kota Jogja terkenal sebagai kota wisata. Selain objek wisata alam, di Kota Jogja juga banyak terdapat wisata kuliner. Beberapa kudapan sudah dijual sejak puluhan tahun lalu dan kini tergolong legendaris. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Tri Indah Lestari.

Hawa dingin yang menusuk tulang Bumi Mataram akhir-akhir ini, tak menghentikan Satinem, 76. Bersama putrinya, Mukinem, ia bergegas menuju salah satu sudut di Jalan Diponegoro Jogja. Skutik membawa keduanya berikut dagangan yang bakal dijajakan ke depan salah satu gerai optik di Barat Tugu Pal Putih Jogja, depan Pasar Kranggan.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

Di sana, sejumlah orang sudah lebih dahulu menantikan kehadiran Mbah Satinem dan putrinya. Mereka rela antre dari pagi hanya untuk lopis yang dijajakan Mbah Satinem.

BACA JUGA: Ini Daftar Rute Perjalanan Kereta Terindah di Dunia

Saat Mbah Satinem dan anaknya menyusun dagangannya, seorang lelaki tua membagikan kupon nomor antrean kepada pembeli yang sudah mulai berdatangan pada pukul 05.30 WIB itu.

Selesai mempersiapkan dagangan, Mbah Satinem mulai meracik lopis yang dibungkus dengan daun pisang untuk pelanggan pertamanya. Seiring selesainya pesanan pertama di pagi itu, pembeli kian bertambah.

Pembeli rela antre dengan sabar demi menikmati lopis yang dibaluri dengan lelehan gula merah dan parutan kelapa. Pelanggan dapat memilih ingin disajikan secara komplet yang terdiri dari campuran lopis, cenil, gatot, tiwul, dan ketan atau dicampur sesuai selera masing-masing.

Satu porsi lopis yang dibanderol Rp10.000 tersebut memiliki rasa manis, gurih, asin yang bercampur jadi satu.

Advertisement

Diburu Wisatawan

Mbah Satinem sudah melakoni usaha jajanan tradisional sejak 1963 lalu. Sebelum ngetem, Satinem muda berjualan keliling dari kampung ke kampung bersama ibunya. Setelah merasa mampu, Mbah Satinem memutuskan berjualan sendiri hingga kini.

Pada usia yang hampir delapan dasawarsa, Mbah Satinem masih cekatan melayani permintaan pelanggan. Ia dibantu Mukinem, yang seolah berperan menjadi juru bicara sekaligus kasir.

Advertisement

Lantas apa sebenarnya yang membuat lopis Mbah Satinem ini begitu ramai pengunjung? Dari penuturan sejumlah pembeli yang sebagian besar merupakan wisatawan lokal, mereka datang untuk menjawab rasa penasaran dan mencicipi langsung lopis Mbah Satinem yang mereka tahu dari media sosial maupun rekomendasi dari teman.

Mbah Satinem pernah masuk dalam salah satu film dokumenter berdurasi 30 menit di platform video on-demand Netflix.

Rentang usia pembeli bermacam-macam dari muda hingga tua. Alya, mahasiswi asal Solo mengaku tertarik dengan lopis Mbah Satinem karena suasananya. Tak hanya wisatawan lokal, turis mancanegara juga rela antre untuk menikmati makanan tradisional itu.

Hannah dan Tino dari Austria dan Belanda datang atas rekomendasi dari seseorang di tempat mereka menginap. Mereka pun mengaku menikmati sajian manis dari jajanan pasar dari Mbah Satinem.

Advertisement

“Butuh sekitar empat hingga lima jam untuk mendapat lopis yang sempurna,” kata Mukinem sambil memberikan uang kembalian ke pembeli.

Lopis adalah jajanan pertama yang dibuat dari sore hari, berbeda dengan jajanan lainnya seperti cenil, gatot, tiwul, dan ketan yang diolah sejak tengah malam.

BACA JUGA: Cari Gudangnya Kuliner Khas Jogja, Pasar Kranggan Tempatnya

Saat terik Matahari yang mulai terasa menyengat, dagangan Mbah Satinem berangsur-angsur habis. Lapaknya hanya buka tiga atau empat jam hingga dagangan ludes terjual.

Pembeli lopis Mbah Satinem harus ekstra sabar. Selain antrean yang banyak, Mbah Satinem meracik jajanan dengan begitu pelan. Namun, selagi menunggu pelanggan dapat mencicipi sejumlah jajanan pasar maupun cemilan tradisional yang tersedia seperti klepon, tahu goreng, risoles, rempeyek, susu kedelai, abon sapi yang diletakkan di meja kecil Mbah Satinem. (M134)

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Piala Dunia 2022

Advertisement

alt

72 Festival di Jogja Hasilkan Ratusan Miliar Rupiah, Regulasi Kerap Jadi Penghambat

Jogja
| Minggu, 27 November 2022, 21:37 WIB

Advertisement

alt

Daftar 21 Penyakit yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan

Lifestyle
| Minggu, 27 November 2022, 18:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement