Advertisement
Taiwan Bidik Turis Indonesia, Andalkan Wisata Malam
Deputy Representative Taipei Economic and Trade Office in Indonesia, Trust H.J. Lin, Ph.D. (kiri) bersama Director Taiwan Tourism Information Center di Jakarta, Abe Chou, membuka rangkaian Taiwan Travel Fair 2026 di PIK Avenue, Jumat (1/5/2026). (ANTARA - HO/Taiwan Toursim Information Center)
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA — Taiwan Tourism Information Center (TTIC) semakin agresif membidik wisatawan Indonesia sebagai pasar utama. Pemerintah Taiwan melihat tren kuat masyarakat Indonesia yang gemar merencanakan liburan keluarga jauh hari, terutama menjelang musim libur sekolah.
Director TTIC, Abe Chou, menyebut Taiwan memiliki daya tarik unik sebagai destinasi wisata yang hidup selama 24 jam. Mulai dari wisata kuliner malam, belanja di pasar malam (night market), hingga ragam hiburan dan destinasi budaya yang terus beroperasi.
Advertisement
“Taiwan itu tidak pernah tidur. Wisatawan bisa menikmati berbagai aktivitas kapan saja, dari pagi hingga malam,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (2/5/2026).
Untuk menarik minat wisatawan Indonesia, TTIC menggelar berbagai kegiatan promosi, salah satunya melalui Taiwan Travel Fair 2026 bertema “Taiwan Never Sleeps” di PIK Avenue. Selain itu, workshop pariwisata juga digelar di Jakarta dan Medan pada 30 April hingga 7 Mei 2026.
BACA JUGA
Strategi ini disesuaikan dengan kebiasaan wisatawan Indonesia yang mulai merencanakan liburan sejak Mei untuk keberangkatan pada periode libur sekolah sekitar Oktober. Melalui kampanye ini, Taiwan ingin memperluas awareness sekaligus mendorong peningkatan jumlah wisatawan Indonesia ke negaranya.
Tak hanya itu, Delegasi Pariwisata Taiwan juga menggelar Taiwan Tourism Workshop pada 4 Mei di Pullman Jakarta Central Park dan 6 Mei di JW Marriott Hotel Medan. Kegiatan ini melibatkan pelaku industri pariwisata, asosiasi, hingga media untuk memperkuat jejaring promosi dan membuka peluang kerja sama, termasuk untuk perjalanan insentif perusahaan (incentive travel).
Salah satu strategi kunci yang diusung Taiwan adalah pengembangan wisata ramah muslim. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai fasilitas pendukung telah disiapkan, mulai dari restoran bersertifikasi halal, ruang ibadah di bandara dan destinasi wisata, hingga layanan khusus bagi wisatawan muslim.
Langkah ini dinilai penting mengingat mayoritas wisatawan Indonesia beragama Islam. Dengan fasilitas yang semakin lengkap, Taiwan ingin memastikan wisatawan dapat menikmati perjalanan dengan nyaman dan tanpa kekhawatiran.
Deputy Representative Taipei Economic and Trade Office di Indonesia, Trust H.J. Lin, menegaskan bahwa Indonesia merupakan pasar strategis dengan potensi besar. Pertumbuhan kelas menengah dan meningkatnya minat bepergian ke luar negeri menjadi faktor pendorong utama.
Data terbaru menunjukkan tren outbound wisatawan Indonesia terus meningkat. Sepanjang 2024, jumlah perjalanan luar negeri mencapai hampir 9 juta trip. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga tetap stabil di kisaran 5 persen pada 2025, yang semakin memperkuat daya beli masyarakat untuk berwisata.
Dengan kombinasi promosi agresif, penguatan fasilitas ramah muslim, serta potensi pasar yang besar, Taiwan optimistis mampu meningkatkan kunjungan wisatawan asal Indonesia secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Di Balik Pegunungan Taihang China Berdiri Menara Kembar Memikat
- Tiket Pesawat Dibatalkan? Begini Cara Refund Uangnya
- WISATA RAMADAN: Jejak Dakwah di Kampung Maksiat Samarinda
- Siap-Siap Long Weekend! Libur Awal Ramadan Jatuh pada 18-20 Februari
- Panduan Wisata Jogja 2026: Dari Glamping hingga Hidden Gems
Advertisement
Massa Aksi Dipukul, LBH Jogja Siapkan Laporan Dugaan Kekerasan May Day
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement







