KULINER JOGJA: Puluhan Tahun Bubur Gudeg Mbah Waginah Jadi Menu Andalan Sarapan

Bubur Gudeg Mbah Wajinah - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
27 November 2018 10:35 WIB Lajeng Padmaratri Wisata Share :

Harianjogja, JOGJA—Saat pagi tiba dan waktu sarapan datang,Kota Jogja menyediakan menu sarapan yang cukup beragam. Salah satu yang khas adalah bubur gudeg.

Ada satu penjual bubur gudeg di daerah Jalan Kabupaten, Sleman yang cukup ramai sejak pagi hari. Meski tempat yang digunakan untuk berjualan terbilang sederhana, tetapi bubur gudeg yang disajikan tak kalah lezat dengan kuliner lainnya.

Ketika melewati Jalan Kabupaten Kilometer 1,5 Sleman, sebuah warung kecil akan terlihat di sisi timur jalan. Di sana, seorang nenek yang bernama Mbah Waginah telah menunggu pelanggan yang akan membeli dagangannya. Mbah Waginah yang sudah berusia 95 tahun ini sesekali dibantu seorang pegawai untuk melayani pembeli. Meski begitu, seluruh masakannya masih murni racikannya sejak 44 tahun ia berjualan.

Saat pembeli memasuki warungnya, Mbah Waginah cekatan mempersiapkan piring dan daun pisang serta menawari pembeli, “Dhahar riki nopo bungkus? [Dimakan di tempat atau dibungkus?]” Jika memilih disantap di tempat, Mbah Waginah akan memberikan sepiring penuh bubur yang dilengkapi gudeg di atasnya. Untuk lauk lainnya, pembeli bisa memilih areh ayam kampung, telur semur, sambal krecek, maupun sayur kacang tolo. Jika tidak menghendaki bubur, pengunjung juga bisa menggantinya dengan nasi putih.

Nangka muda dalam gudeg terasa empuk dan lembut. Telur gudegnya bahkan tidak terlalu keras seperti kebanyakan olahan telur gudeg. Tekstur bubur yang lembut dipadu dengan rasa gurih dari kuah areh akan membuat bubur gudeg di sini semakin nikmat. Jika Anda merupakan penikmat makanan pedas, maka alih-alih kuah areh, Anda perlu memilih kuah sayur kacang tolo dan krecek yang cenderung bercitarasa pedas.

Dalam sehari, tak tentu bubur gudeg yang dapat terjual. Meski begitu, ia selalu menyiapkan masing-masing menunya dalam satu baskom atau panci. Kebanyakan pembeli yang datang akan memilih membungkus pesanannya, sebab warung kecilnya tak banyak menampung pelanggan.

Satu porsi bubur guded Mbah Waginah dibanderol harga Rp7.000 hingga Rp15.000 tergantung lauk pauk yang dipilih. Jika makan di tempat, Anda akan dipersilakan mengambil teh tawar yang diberikan secara cuma-cuma oleh pemilik warung.

Baru-baru ini, ia menyebutkan warungnya bertambah ramai sejak seorang pembeli mengunggah fotonya di internet. “Langsung ramai yang beli,” ujarnya dalam bahasa Jawa. Perempuan asli Sleman ini mengaku baru berjualan di Jalan Kabupaten sejak 17 tahun lalu, setelah sebelumnya terlebih dahulu di daerah Besole.

Warung kecilnya akan mulai buka dan melayani pembeli mulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB. Jika pada akhir pekan, warungnya kemungkinan tutup lebih cepat karena warga sekitar lebih banyak yang membeli.