Bisa Mati Kenyang di Penang

Salah satu sudut di Penang. - Oktaviano D.B Hana/JIBI/Bisnis Indonesia
14 Mei 2018 15:35 WIB Oktaviano DB Hana Wisata Share :
Adplus Tokopedia

Harianjogja.com, PENANG—“Di Penang, orang tidak akan mati karena kelaparan, tetapi bisa mati karena kekenyangan.”

Kalimat ini berulangkali diucapkan Redza pemandu wisata yang menemani saya dan sejumlah awak media asal Indonesia ketika berkunjung ke Pulau Penang, Malaysia, pada akhir Maret 2018. Lawatan kami ke salah satu negara bagian Malaysia ini pun untuk meliput pembukaan rute baru penerbangan internasional maskapai Citilink Indonesia, yakni Jakarta – Penang.

Penang sebagai sebuah negara bagian sebenarnya terbagi atas dua bagian besar, yakni Pulau Penang berada di sebelah barat dan Seberang Perai yang masih menyatu dengan semenanjung Malaysia. Kedua wilayah ini dihubungkan oleh Jembatan Penang sepanjang 13,5 km dan Jembatan Penang II sepanjang 23,5 km.

Dengan populasi mencapai dua juta jiwa, penduduk Pulau Penang terbilang sangat beragam dari sisi budaya dan etnis. Sekitar 65% penduduk Penang memang berlatar etnis Tionghoa yang berbahasa Hokkien, sedangkan selebihnya merupakan orang Melayu dan Tamil dari berbagai macam negara, seperti Bangladesh, Pakistan dan India.

Heterogennya masyarakat itu pun menjadi faktor utama yang membuat Pulau Penang menjadi surga makanan dengan beragam pilihan wisata kuliner. Mulai dari makanan khas Melayu, India, hingga varian makanan orang Hokkien. Semuanya tersedia.

Dari pagi hingga tengah malam, penjaja makanan selalu siap memanjakan lidah wisatawan di hampir setiap ruas jalan George Town. “Pulang dari Penang, seharusnya berat badan Anda sekalian bertambah, setidaknya satu atau dua kilogram,” celoteh pemandu wisata saat mengajak kami mengunjungi salah pusat street food.

Salah satu pusat wisata kuliner yang dapat dikunjungi pada malam hari adalah Gurney Drive. Di kawasan ini, wisatawan dapat memilih tempat makan, mulai dari restoran dengan konsep fine dining, bar dengan hiburan live music, dan food court dengan ratusan pilihan jajanan.

Untuk pilihan tempat terakhir itu, tersedia beragam pilihan makanan, baik yang tradisional maupun yang moderen. Nasi Lemak dan Nasi Kari merupakan salah satu makanan khas di Pulau Penang. Selain itu, ada Mie Hokkien dan Asam Laksa. Perlu diketahui makanan terakhir ini berlabel ‘tidak halal’.

Masih ada banyak lagi pilihan makanan yang bisa dieksplor oleh wisatawan saat berkunjung ke pulau dengan julukan Mutiara dari Timur ini.

 

Jasa Kesehatan

“Kalau makan terlalu banyak dan sakit, tidak perlu khawatir. Di Pulau Penang banyak rumah sakit bagus,” kata uncle Redza, saat memandu perjalanan kami.

Memang, selain menyediakan wisata kuliner, Pulau Penang memang terkenal dengan fasilitas kesehatan berkelas dunia. Tidak mengherankan, sebagian besar pasien internasional yang berobat ke rumah sakit di Penang berasal dari Indonesia.

Regional Marketing Manager Island Hospital Vincent Tey mengatakan sekitar 40% dari pasien yang dirawat pihaknya merupakan pasien internasional, antara lain dari Indonesia, Vietnam, Hong Kong, Australia dan Jepang. Namun, dia mengatakan kebanyakan dari jumlah itu berasal dari Sumatra dan Jawa.

“Sekitar 90 persen dari Indonesia, terutama Aceh dan Medan. Dari Jawa, Kalimantan dan Sulawesi juga mulai meningkat,” ungkapnya.

Vincent mengatakan bahwa pihaknya memiliki layanan yang lengkap untuk penanganan sejumlah penyakit berat, dengn spesialisasi neuroscience, ortopedi, dan gastroenterologi. Dengan layanan yang lebih cepat, jelasnya, Island Hospital menargetkan rata-rata masa rawat inap pasien hanya mencapai 2,5 hari.

Menurutnya, dengan harga yang lebih kompetitif dari layanan serupa di Singapura dan Kuala Lumpur, Malaysia, rumah sakit di Pulau Penang memang menjadi destinasi menarik bagi para pasien dari Indonesia.

“Biaya hidup di sini jauh lebih murah ketimbang di Singapura dan Kuala Lumpur. Sekalian berobat, bisa menikmati liburan dengan berwisata juga,” jelasnya.

Komentar serupa diucapkan Senior Manager, Sales, & Marketing Gleneagles Penang, Aileen Foo. Apalagi, sebutnya, pemerintah Malaysia memberikan batas atas untuk biaya layanan kesehatan.

“Di sini Anda bisa mendapatkan kualitas Gleneagles Singapura dengan harga biaya hidup di Penang,” ungkapnya.

 

Warisan Dunia

Pulau Penang, oleh Unesco, juga sejak 2008 dinobatkan sebagai salah satu situs warisan dunia. Kota George Town memang masih menyisakan jejak sejarahnya dengan bangunan-bangunan berumur ratusan tahun di berbagai sisinya.

Menyusuri George Town niscaya akan menghantar wisatawan untuk kembali ke masa abad-abad silam. Di situ, misalnya, ada Masjid Melayu Lebuh Acheh yang dibangun pada 1808. Ada pula gedung Swee Hock Chan yang dimiliki Goh Say Eng yang pernah dikunjungi pemimpin revolusi Republik Rakyat China, Sun Yat Sen.

Di sepanjang jalan itu pun, banyak dijumpai lukisan jalanan atau street art painting (mural) yang cukup tersohor. Objek lukisan ini cukup diminati oleh pelancong untuk berfoto.

George Town juga dapat dinikmati dari ketinggian melalui gedung tinggi, The Top @Komtar. Di sini, wisatawan dapat menikmati pemandangan kota bersejarah ini dari lantai 68 gedung yang berlantaikan kaca.

Sedikit keluar dari George Town, tepatnya di Teluk Bahang, Pulau Penang menyediakan sebuah destinasi wisata dan edukasi berupa Entopia, sebuah pusat konservasi kupu-kupu dan serangga. Di tempat ini, wisatawan dapat melihat ribuan jenis kupu-kupu, serangga dan sejumlah hewan unik lainnya layaknya di alam bebas.

Satu lagi tempat yang wajib dikunjungi di Pulau Penang adalah Bukit Bendera atau Penang Hill yang berjarak sekitar 6 kilometer dari George Town.

Destinasi wisata ini merupakan salah satu peninggalan kolonial di Semenanjung Malaysia yang digunakan sebagai pusat pemberi informasi dan juga resort bagi tentara Kerajaan Inggris di masa itu. Terbentang pula satu-satunya konservasi hutan hujan basah di Pulau Penang dan dilindungi sejak 1960.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Adplus Tokopedia