Mengeksplorasi Budaya Betawi di Setu Babakan

Bir Pletok Situ Babakan - JIBI/Bisnis Indonesia
10 November 2018 09:35 WIB Eva Rianti Wisata Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-Mengunjungi Jakarta, tidak lengkap jika pelancong tidak mampir di Kampung Budaya Betawi di Setu Babakan, Jakarta Selatan.

Di kampung in beragam budaya khas Jakarta alias Betawi sangat hidup, mulai dari seni, budaya, bahasa, hingga kulinernya. Tempat wisata yang diresmikan sejak 2000 ini menjadi pintu terdepan pelestarian kebudayaan asli Betawi di Ibu Kota.

Secara tampilan dari luar, lokasi ini tidak berbeda dengan perkampungan-perkampungan lainnya. Akan tetapi, ketika masuk ke dalam, Anda akan merasakan nuansa Betawi dengan pemandangan sederet ondel-ondel yang dijajakan oleh para warga di setiap titik sepanjang jalan, serta musik Betawi yang tengah diputar.

Berjalanlah ke arah Musem Betawi. Di museum ini nilai-nilai sejarah Betawi banyak tergambarkan. Konon, kelompok etnis Betawi lahir dari perpaduan berbagai negara lain, di antaranya China, Arab, Belanda. Ketiga negara itu memberi banyak pengaruh, misalnya terhadap pakaian khas Betawi dan makanan khas.

Di museum tersebut, Anda bisa menyaksikan keberagaman pakaian Betawi yang menggambarkan hubungannya dengan beberapa negara tersebut. Misalnya, baju pengantin Betawi didesain atas pengaruh dari China dan Arab.

Suku lainnya, seperti Jawa, Sunda, dan Melayu juga memberikan pengaruh pada budaya Betawi. Perpaduan berbagai bangsa dan suku inilah yang diyakini membuat orang Betawi memiliki karakteristik terbuka dan terbiasa dengan perbedaan.

Di museum itu Anda juga bisa melihat delapan ikon budaya Betawi yang baru saja disahkan pada awal tahun lalu, yakni ondel-ondel, kembang kelapa, ornamen gigi baling, baju sadariah, baju kebaya kerancang, batik betawi, kerak telor, dan bir pletok.

Selain melihat banyak bukti sejarah budaya Betawi di museum tersebut, Anda juga bisa menyaksikan para bocah yang sedang melenggangkan tarian Betawi di pelataran museum.

Keluar dari museum, berjalanlah ke arah setu atau situ (danau kecil) yang sebenarnya menjadi ikon dari Setu Babakan. Di sepanjang pinggir danau seluas 32 hektare tersebut banyak sekali warga kampung yang menjajakan makanan dan minuman khas Betawi.

Di antaranya yang paling populer adalah bir pletok. Minuman yang aslinya non alkohol ini dinamai bir lantaran mendapat pengaruh dari zaman penjajahan Belanda. Waktu itu, kaum pribumi tidak mau kalah dengan penjajah yang suka minum bir, lalu lahirlah minuman sendiri yang fungsinya sama yakni untuk menyegarkan yang bahan-bahannya berupa rempah-rempah.

Ada beragam makanan khas Betawi yang bisa dipilih, di antaranya tauge goreng, soto Betawi, gado-gado, dan pecak gurame. Pecak gurame merupakan salah satu makanan khas Betawi yang terbilang langka. Ciita rasanya sangat sedap, segar, lezat, dan super menggoyang lidah.

Di Setu Babakan, satu porsi pecak gurame yang bisa dinikmati empat orang hanya dibanderol dengan harga Rp125.000.

Selain itu, sejumlah penganan mengular di sepanjang bibir danau, seperti dodol, geplak, tape uli, dan kue rangi. Hanya di tempat inilah Anda bisa dengan puas mencicipi sejuta kuliner khas Betawi yang benar-benar asli yang kini telah terlihat cukup langka di tempat-tempat lainnya di Jakarta.

Untuk mengeksplor lebih luas nuansa Betawi di kampung tersebut, alangkah menyenangkannya jika Anda menumpaki delman atau kuda untuk berkeliling kampung.

Mungkin akan lebih banyak hal-hal unik dan menarik seputar budaya Betawi yang Anda lirik dan amati.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia