Pengin Belajar Bikin Jamu, Datang Saja ke Sini

Wagiyanti menunjukan beberapa produk jamu tradisional di Omah Jamu, Dusun Watu, Desa Argomulyo, Sedayu, Bantul, Minggu (2/12/2018). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
03 Desember 2018 14:20 WIB Ujang Hasanudin Wisata Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Keberadaan Omah Jamu di Dusun Watu, Desa Argomulyo, Sedayu, Bantul, tidak hanya sebagai tempat untuk memproduksi jamu. Namun rumah produksi jamu yang mulai dibuka sejak 2016 lalu itu kini mulai banyak dikunjungi wisatawan.

Ketua Pengelola Omah Jamu, Wagiyanti mengatakan rerata tiap bulan ada empat kali kunjungan rombongan wisatawan dari berbagai daerah. Jumlah pengunjung pun diakui dia bisa bertambah saat hari libur.

Wagiyanti mengatakan ‎pengunjung tidak hanya membeli jamu, namun juga ingin menyaksikan proses peracikan jamu. Lantaran banyaknya kunjungan wisatawan, pengelola pun memberlakukan tarif belajar meracik jamu mulai dari Rp15.000 sampai Rp35.000 untuk tiap paket per orangnya. "Kebanyakan yang datang rombongan pemerintah dari berbagai daerah dan rombongan pelajar," kata Wagiyanti, Minggu (2/12/2018).

Dalam mengelola Omah Jamu, Wagiyanti tak sendirian melainkan bersama 29 ibu-ibu rumah tangga setempat. Omah Jamu yang didirikan melalui dana CSR PT Pertamina Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Rewulu itu memang sengaja untuk mewadahi para penjual jamu untuk melakukan pengembangan penjualan hingga mengenalkan jamu tradisional khas setempat kepada masyarakat luas.

Sebelum ada Omah Jamu, kata Wagiyanti, sebagian besar ibu-ibu warga Dusun Watu, Desa Argomulyo memang berjualan jamu gendong hinggal luar desa. Ia tidak tahu sejak kapan warga mulai berjualan jamu, "Sudah turun temurun sejak zaman dulu. Kalau saya kebetulan baru mulai jualan sekitar 10 tahunan," ucap dia.

Sampai saat ini proses pembuatan dan penjualan jamu masih terus dilakukan oleh warga. Hanya selain berjualan sendiri, saat ini warga juga tergabung dalam kelompok pengrajin jamu tradisional Jati Husada Mulya di Omah Jamu.

Sejak dua tahun terakhir jamu yang diproduksi tidak hanya jamu cair seperti beras kencur, kunir asam, temu lawak, uyup-uyup. Namun juga jamu instan siap seduh yang bertahan sampai 12 bulan, seperti beras kencur, secang celup, Topceng atau sehat lelaki, putri singset, dan kunyit sirih. "Yang paling laku Topceng," kata dia. Ada sekitar 12 jenis produk jamu yang rutin diproduksi dalam bentuk kemasan serbuk.

Pengemasan jamupun semakin berkembang, bahkan sudah masuk toko-toko modern dan toko oleh-oleh berskala besar. Wagiyanti mengatakan produk jamu mudah masuk toko setelah kemasannya dianggap bagus dan izin lengkap mulai dari PIRT sampai label halal.

Selain toko-toko sekitar Sedayu, pemasaran produk Omah Jamu juga dilakukan melalui online. Wagiyanti menambahkan para pengrajin yang tergabung dalam Jati Husada Mulya itu saat ini selain fokus memproduksi juga fokus menjarkan proses pembuatan jamu kepada wisatawan yang datang. Pihaknya juga mulai menjalin kerjasama dengan beberapa pengelola wisata sekitar Sedayu.

Kepala Bidang Pemasaran, Dinas Pariwisata Bantul, Ni Nyoman Yudiriani mengatakan pusat produksi jamu di Desa Argomulyo Sedayu kini menjadi pionir dalam wilayah tersebut menyongsong Desa Wisata. “Kemandirian dan kreativitas masyarakat, itu yang terpenting,” kata dia.